Rabu, 03 Mei 2017

Tugas Pendahuluan Modul 4

Tugas Pendahuluan Modul 4


Percobaan 1

Kondisi :
Rancanglah rangkaian inverting amplifier sesuai pada percobaan dan ganti resistor dengan ukuran 3,9k ohm untuk R1 dan R2, atur tegangan input menjadi 1,3 V serta catatlah tegangan output yang dihasilkan


Rangkaian Inverting Amplifier Sesuai Kondisi


Penjelasan Rangkaian :

Disini terdapat OP-AMP dimana ada yang inverting dan non inverting. OP-AMP ini berbentuk segitiga seperti dapat dilihat pada gambar. Disini ada gambar rangkaian inverting dimana artinya membalikkan nilai tegangan. Maksudnya adalah nilai yang semula akan dibalikkan. Misalkan jika kita memberikan input bernilai positif maka pada nilai output akan bernilai negatif dan sebaliknya.


Pada Gambar diatas dapat dilihat bahwa nilai input telah diinverting, nilai input yang semula positif berubah menjadi negatif.

Untuk lebih jelasnya dapat didownload file dibawah ini :
Rangkaian Disini
Video Simulasi Disini
HTML Disini











Tugas Pendahuluan Modul 3

Tugas Pendahuluan Modul 3


Percobaan 3

Kondisi :
Ganti Resistor 100k dengan 1k lalu amati sinyal keluarannya pada kedua ujung kaki resistor 1k tersebut dengan menggunakan osiloskop


Rangkaian sesuai kondisi 


Penjelasan cara kerja :
Rangkaian dibuat sesuai gambar rangkaian clamper, kemudian diubah pada nilai resistornya yaitu dari 100k menjadi 1k. Ketika disimulasikan maka akan terlihat gelombang yang dihasilkan yang mana berbentuk sinusoidal seperti gambar dibawah :

Gambar Osiloskop

Pada gambar dapat dilihat adanya gelombang sinus. Tetapi gelombang yang dihasilkan memiliki amplitudo yang kecil karena akibat kita memperkecil nilai resistornya tadi dari 100k menjadi 1k. Jadi kesimpulannya besar amplitudo gelombang tergantung besar nilai resistor yang dipakai.

Untuk lebih lengkapnya dapat didownload file dibawah ini :

Rangkaian Disini
Video Simulasi Disini
HTML Disini




Selasa, 02 Mei 2017

Tugas Pendahuluan Modul 2

Tugas Pendahuluan Modul 2


Percobaan 1

Kondisi :
Buatlah rangkaian seperti gambar percobaan 1 dengan menggunakan D flip-flop dan output seven segmen

Rangkaian 

Rangkaian Sesuai Kondisi 

Penjelasan :
Pertama-tama rangkaian dibuat sesuai gambar rangkaian, tetapi karena disini diberikan kondisi seperti diatas maka dikondisikan seperti kondisinya, sehingga rangkaian seperti pada gambar rangkaian ke-2. Cara kerjanya yaitu disini kita menggunakan D flip-flop yang berfungsi sebagai counter, dimana outputnya dalam bentuk seven segmen. Pada rangkaian dapat dilihat ada reset pada paling bawah yang warna biru berangka 0 dan direset 1. Kemudian ada clock yang mana berfungsi sebagai inputan nilai biner 1 atau 0 yang berjalan secara continiu. Setelah itu ada decoder dimana akan menghasilkan nilai berupa angka ke seven segmen. Setelah rangkaian seperti gambar diatas maka akan di test apakah sesuai. Jika keluar angka yang tampil berbeda secara kontiniu maka rangkaian berhasil di buat.

Untuk lebih lengkapnya dapat di download pada file dibawah ini :
Rangkaian Disini
Video simulasi Disini
HTML Disini




Tugas Pendahuluan Modul 1

Tugas Pendahuluan Modul 1



Percobaan 3

Kondisi :
Buatlah rangkaian multivibrator monostabil sesuai dengan gambar pada percobaan dengan kapasitor sebesar 260 uF dan resistor sebesar 2 kΩ






Dari rangkaian percobaan diatas kita sesuaikan dengan kondisi yang diberikan. Jadi akan terlihat rangkaian seperti dibawah ini :


Cara kerja dari rangkaian diatas adalah pertama-tama rangkai rangkaian seperti gambar dan sesuaikan dengan kondisi yang telah diberikan. Kemudian berikan nilai tahanan dan tahanan RF nya. Atur nilai kapasitor sesuai yang diinstruksikan kemudian hubungkan ke vcc dan ground. Setelah itu hidupkan rangkaian. Jika LED nya hidup berarti rangkaian berhasil. 

Link Download :
Rangkaian Disini
Video Simulasi Disini
HTML Disini


Rabu, 26 April 2017

Modul 4

OP-AMP DAN PEMBANGKIT
GELOMBANG ISYARAT

A. Tujuan Percobaan

1. Merangkai dan menguji rangkaian inverting amplifier dan                                                                                                    non

inverting Amplifier

2.  Merangkai dan menguji penguatan pada suatu rangkaian amplifier

3.  Merangkai dan menguji rangkaian triangle wave generator

B.  Alat yang Digunakan

1.  Panel rangkaian op-amp

2.  Modul triangle wave generator

3.  Osiloskop

4.  Multimeter

5.  Function generator

6.  Jumper

C.  Dasar Teori

Operational Amplifier

Operational Amplifier atau yang di singkat op-amp merupakan salah satu  komponen analog yang sering digunakan dalam berbagai aplikasi rangkaian elektronika.Aplikasi op-amp yang paling sering dipakai antara lain adalah rangkaian  inverter, non-inverter, buffer, adder (penjumlah),integrator  dan differensiator.

1. Rangkaiaan  Inverting

Rangkaian penguat inverting merupakan rangkaiaan elektronika yang berfungsi untuk memperkuat dan membalik polaritas sinyal masukan. Jadi, ada tanda minus pada rumus penguatannya. Penguatan inverting amplier adalah bisa lebih kecil nilai besaran dari 1.Sebuah penguat pembalik menggunakan umpan balik negatif untuk membalik dan menguatkan sebuah tegangan.

Resistor Rf melewatkan sebagian sinyal keluaran kembali ke masukan. Karena keluaran tak sefase sebesar 180 derajat, maka nilai keluaran tersebut secara efektif mengurangi besar masukan. Rumus dan rangkaiaan inverting dideskripsikan sebagai berikut :



Gambar 4.1 Rangkaian Inverting

2. Rangkaiaan Non-Inverting

Penguat non-inverting amplier merupakan kebalikan dari penguat inverting, dimana input dimasukkan pada input non-inverting sehingga polaritas output akan sama dengan polaritas input tapi memiliki penguatan yang tergantung dari besarnya hambatan feedback dan hambatan input. Penguat ini memiliki masukan yang dibuat melalui input non-inverting. Dengan demikian tegangan keluaran rangkaian ini akan satu fasa dengan tegangan inputnya. Rumus dan rangkaiaan non-inverting dideskripsikan sebagai berikut:


Gambar 4.2 Rangkaian Non Inverting



Triangle Wave Generator

Triangel Wave Generator atau Pembangkit Gelombang segitiga umumnya terdiri dari 2 bagian utama. Bagian utama tersebut adalah rangkaian Non-Inverting schmitt triger oleh Al dan rangkaian integrator yang dibangun oleh A2. Output rangkaian Non-Inverting schmitt triger pada Triangel Wave Generator atau Pembangkit Gelombang Segitiga ini berupa gelombang kotak yang digunakan untuk driver rangkaian integrator A2.  


Rangkaian  integrator yang diberi input gelombang kotak akan memberikan output berupa gelombang segitiga dan digunakan untuk umpan balik (feedback ke rangkaian Non-Inverting schmitt triger A1 pada rangkaian Triangular Wave Generator atau Pembangkit Gelombang Segitiga ini sehingga rangkaian NonInverting schmitt triger A1 akan memberikan input ke integrator lagi dan hal ini berulang terus. 





Modul 3

              KARAKTERISTIK DIODA & TRANSISTOR


A.       Tujuan Percobaan

1.     Merangkai dan menguji rangkaian diode pengubah bentuk gelombang (Rangkaian Clipper)

2.     Merangkai dan menguji rangkaian diode pengubah posisi vertical gelombang (Rangkain Clamper)

3.     Merangkai dan menguji hubungan arus transistor terhadap hambatan

B.        Alat yang digunakan

1.     Power supply

2.     Modul Diode

3.     Modul transistor

4.     Multimeter

5.     Jumper

C.       Dasar Teori

Diode


Diode merupakan piranti elektronika yang terbentuk dari suatu penyambung material semikuonduktor tipe-p dan tipe-n. bagian –p (the pside) disebut anoda dan bagian –n disebut katoda.

Gambar 3.1 Dioda dalam bentuk (a) Sesungguhnya (b) Skematik sambungan p-n dan (c) Simbol

Disekitar sambungan p-n terdapat daerah deplesi yang menyebabkan electron bebas tidak dapat mengalir bila diode belum dapat tegangan panjar maju (forward biased) yang besarnya melebihi suatu nilai tertentu yang disebut nilai tertentu yang disebut tegangan ambang, tegangan penghalang, atau tegangan diode (VD). Tegangan ini besarnya (secara aproksimasi kedua) adalah sekitar 0,7V (untuk silicon, Si) dan 0,3V (untuk Germanium,Ge). Pada saat dipanjar maju, resistansi diode menjadi kecil (disebut resistansi panjar maju,RF) dan ketika dipanjar mundur (reserve biased) resistansinya menjadi besar (disebut resistansi panjar mundur, RR).

Beberapa tipe diode sengaja dirancang untuk bekerja dalam modus panjar maju (contoh : diode penyearah, LED) sementara beberapa tipe lainnya bekerja dalam modus panjar mundur (contoh : diode zener, fotodioda)

Berikut adalah metode yang digunakan untuk mempelajari rangkaian-rangkaian diode yaitu:

a. Clipper

Rangkaian clipper (pemotong) atau disebut juga rangkain limiter (pembatas) adalah rangkaian diode yang digunakan untuk memotong atau membatasi sebagian bentuk gelombang masukan dan mentransmisikannya pada level diatas atau dibawah level acuan. Level acuan ini bergantung pada nilai tegangan panjar (biased) yang diberikan.


b. Clamper

Rangkaian  Clamper  adalah  rangkaian  diode  yang  berfungsi“menjepit” atau menggeser sinyal pada suatu level tegangan dc tertentu.
Rangkaian ini terdiri dari sebuah diode,kapasitor dan elemen resistif. Besar nilai R dan C haruslah dipilih sedemikian sehingga konstanta waktu RC cukup besar untuk menjamin bahwa tegangan pada kapasitor tidak turun secara signifikan selama diode tidak menghantarkan. Ada beberapa tipe clamper positif, clamper negative, dan clamper berpanjar.


c.   Pelipat ganda tegangan


Pelipat ganda tegangan (voltage multiplier) adalah rangkaian dengan dua atau lebih diode yang menghasilkan suatu tegangan DC yang besarnya sama dengan tegangan kelipatan tegangan masukan puncak. Catu daya ini digunakan untuk piranti tegangan tinggi DC namun berarus rendah seperti CRT pada TV,Osiloskop dan Komputer.

Transistor

Transistor merupakan komponen elektronika yang terdiri dari tiga lapisan semikonduktor, diantaranya contoh NPN dan PNP. Transistor mempunyai tiga kaki yang disebut dengan Emitor (E), Basis/Base (B) dan Kolektor/collector (C).


Gambar 3.2 Transistor PNP dan Simbol

Gambar 3.3 Transistor NPN dan Simbol

Gambar 3.4 Jenis dan bentuk transistor sebenarnya


Fungsi Transistor antara lain :

1.     Sebagai penguat arus, tegangan dan daya (AC dan DC)

2.     Sebagai penyearah

3.     Sebagai mixer

4.     Sebagai osilator

5.     Sebagai switch


Transistor yang umum beredar ada beberapa macam diantaranya adalah :

1.     Uni Junktion Transistor (UJT)

2.     Field Effect Transistor (FET)

3.     MOSFET
4.   Bipolar Junction Transistor (BJT) 










Modul 2

     COUNTER, SHIFT REGISTER DAN 

                   SEVEN SEGMEN

A.  Tujuan Percobaan

1.  Merangkai dan Menguji operasi logika dari counter asyncron dan counter syncronous.

2.  Merangkai dan Menguji aplikasi dari sebuah Counter

3.  Merangkai dan Menguji Shift Register dan Seven Segment

B.  Alat yang Digunakan

1.  Panel DL 2203D

2.  Panel DL 2203C

3.  Panel DL 2203S

4.  Jumper


C.  Dasar Teori

COUNTER

Counter adalah sebuah rangkaian sekuensial yang mengeluarkan urutan statestate tertentu, yang merupakan aplikasi dari pulsa-pulsa inputnya. Pulsa input dapat berupa pulsa clock atau pulsa yang dibangkitkan oleh sumber eksternal dan muncul pada interval waktu tertentu. Counter banyak digunakan pada peralatan yang berhubungan dengan teknologi digital, biasanya untuk menghitung jumlah kemunculan sebuah o kejadian/event atau untuk menghitung pembangkit waktu. Counter yang mengeluarkan urutan biner dinamakan Biner Counter. Sebuah n-bit binary counter terdiri dari n buah flip-flop, dapat menghitung dari 0 sampai 2n - 1 . Counter secara umum diklasifikasikan atas counter asyncron dan counter syncronous.


a.  Counter Asyncronous

Counter Asyncronous disebut juga Ripple Through Counter atau Counter Serial (Serial Counter), karena output masing-masing flip-flop yang digunakan akan bergulingan

(berubah kondisi dan “0” ke “1”) dan sebaliknya secara berurutan atau langkah demi langkah, hal ini disebabkan karena hanya flipflop yang paling ujung saja yang dikendalikan oleh sinyal clock, sedangkan sinyal clock untuk flip-flop lainnya diambilkan dan masing-masing flip-flop sebelumnya.

Gambar 2.1 Rangkaian Counter Asyncronous

b. Counter Syncronous


Counter syncronous disebut sebagai Counter parallel, output flip-flop yang digunakan bergulingan secara serempak. Hal mi disebabkan karena masingmasing flip- flop tersebut dikendalikan secara serempak oleh sinyal clock.

Gambar 2.2 Rangkaian Counter Syncronous


Shift register

Register geser (shift register) merupakan salah satu piranti fungsional yang banyak digunakan dalam sistem digital. Tampilan pada layar kalkulator dimana angka bergeser ke kiri setiap kali ada angka baru yang diinputkan menggambarkan karakteristik register geser tersebut. Register geser ini terbangun dari flip-flop. Register geser dapat digunakan sebagai memori sementara, dan data yang tersimpan didalamnya dapat digeser ke kiri atau ke kanan. Register geser juga dapat digunakan untuk mengubah data seri ke paralel atau data paralel ke seri. Ada empat tipe register yang dapat dirancang dengan kombinasi masukan dan keluaran dan kombinasi serial atau paralel :


1.   Serial in serial out (SISO)

Pada register SISO, jalur masuk data berjumlah satu dan jalur keluaran juga berjumlah satu. Pada jenis register ini data mengalami pergeseran, flip flop pertama menerima masukan dari input, sedangkan flip flop kedua menerima masukan dari flip flop pertama dan seterusnya.



2. Serial in paralel out (SIPO)


Register SIPO, mempunyai satu saluran masukan saluran keluaran sejumlah flip flop yang menyusunnya. Data masuk satu per satu (secara serial) dan dikeluarkan secara serentak.Pengeluaran data dikendalikan oleh sebuah sinyal kontrol. Selama sinyal kontrol tidak diberikan, data akan tetap tersimpan dalam register.


3. Paralel In serial Out (PISO)

Register PISO, mempunyai jalur masukan sejumlah flip flop yang menyusunnya, dan hanya mempunyai satu jalur keluaran. Data masuk ke dalam register secara serentak dengan di kendalikan sinyal kontrol, sedangkan data keluar satu per satu (secara serial).


4. Paralel In Paralel Out (PIPO)

Register PIPO, mempunyai jalur masukan dan keluaran sesuai dengan jumlah flip flop yang menyusunnya. Pada jenis ini data masuk dan keluar secara serentak.



Seven segmen

Piranti tampilan modern disusun sebagai pola 7-segmen atau dot matriks.Jenis 7-segmen, sebagaimana namanya, menggunakan pola tujuh batang yang disusun membentuk angka 8 seperti ditunjukkan pada gambar 3.1.Menurut kesepakatan, huruf-huruf yang diperlihatkan dalam Gambar 3.1 ditetapkan untuk menandai segmen-segmen tersebut. Dengan menyalakan beberapa segmen yang sesuai akan dapat diperagakan digit-digit dari 0 sampai 9, juga bentuk huruf A sampai F (dimodifikasi).

Sinyal input dari switches tidak dapat langsung dikirimkan ke peraga 7segmen, sehingga harus menggunakan decoder BCD ke 7-segmen sebagai antar muka. Decoder ini terdiri dari gerbang-gerbang logika yang masukannya berupa digit BCD dan keluarannya berupa saluran-saluran untuk mengemudikan tampilan 7-segmen.

Gambar 2.3 Rangkaian tampilan 7-segmen dengan huruf-huruf segmennya.